Awal Mula

Kirei dan Kakaknya Evelyn, adalah anak yang senang menggambar dan membuat aneka kerajinan tangan dari kertas. Orang tuanya secara rutin menyediakan aneka macam kertas, untuk digunakan sesuai keinginan dan kebutuhan. Meskipun begitu, mereka selalu diminta untuk menggunakan kertas dengan baik dan bijak. Kertas bekas pakai tidak boleh dibuang ke tempat sampah, melainkan dipisahkan dan dimanfaatkan secara berulang kali, hingga memang tidak bisa dimanfaatkan lagi.

Kemudian suatu hari, Kirei mendapatkan sebuah tantangan "Aksi Nyata Berdampak" dari sekolahnya (SD Lebah Putih), sekaligus sebagai Project PTS. Dan setelah melakukan brainstorming masalah dan minat, Kirei mengambil topik Kertas dan Sampah Kertas sebagai Projectnya.

Setelah menentukan topik, Kirei memulai proses belajar mengenai kertas. Mulai dari sejarah, jenis hingga pembuatan kertas. Dari proses belajar tersebut, Kirei menjadi paham, kenapa kita harus memanfaatkan kertas sebaik mungkin. Yakni karena proses pembuatan kertas memerlukan sumber daya alam dan waktu yang cukup lama. Amat disayangkan jika kertas hanya dipakai sekejap dan kurang bermanfaat.

Dari proses belajar itu, Kirei juga menyadari bahwa jika kertas yang tidak mengandung unsur plastik atau lilin, maka kertas akan mudah untuk didaur ulang. 

Kirei kemudian belajar mengenai proses daur ulang kertas, yang ternyata mudah dan seru untuk dicoba.

Setelah proses belajar, Kirei bersama keluarganya membuat sebuah project dengan tajuk, "Semut Kertas". Sebuah project untuk mengajak lingkungan terdekat (tetangga dan teman di sekolah) untuk memisahkan kertas bekas pakai, untuk kemudian diolah menjadi kertas daur ulang. 

Menggunakan diksi "Semut", karena meneladani para semut yang bisa ulet dan gigih mencari, menemukan dan mengolah bahan makanannya sendiri. Meneladani semut yang bisa bergerak cepat dan bergotong royong dalam bekerja. 

Harapannya, Project ini bisa menggerakkan banyak orang untuk peduli pada kertas, dan mau bergerak bersama seperti pasukan semut yang kompak.

Project Semut Kertas, juga mengedukasi anak-anak khususnya teman-teman Kirei di sekolah, mengenai Kertas Tradisional khas Indonesia yang hampir punah, yakni Daluang yang terbuat dari pohon Saeh atau Paper Mulberry. 

Di era digital, ke depannya akan semakin banyak aktivitas yang tidak memerlukan kertas. Tapi bukan berarti kita meninggalkan dan abai terhadap penggunaan kertas. 

Kertas akan tetap sangat bermanfaat di masa kini dan masa depan. Alangkah baiknya jika kita terus mempertahankan sumber daya alam yang bisa digunakan untuk membuat kertas secara berkelanjutan. Memanfaatkan kertas dengan baik dan bijak, agar tetap ramah pada bumi ini. 

Komentar

Postingan Populer